~ Author Present for Good Readers ~

Colaboration Author : CE (@Ceciliaaa92) and Evilliey Kim (@CHOCHO_LATTE)

Title : You’re Mine!

Main Cast : Lu Han (EXO) ~ Kim Seung Hyo (OC).

Other Cast : EXO Member find by yourself, if you read our fanfiction. ^^

Genre : Romance, Angst, Thriller (?), Sad, AU.

Rating : PG +17.

Length : Series.

Poster : AmmbL

WARNING : TYPO dan banyak ketidakjelasan, cerita PASARAN tapi bener-bener ide ASLI milik KAMI!!

Kisah ini murni imajinasi belaka, bila ada kesamaan nama, alur, atau adegan maka hanya kebetulan belaka.

DAN SATU LAGI! APA YANG AKAN READERS BACA, BELUM TENTU MEMANG ITU YANG READERS PIKIRKAN!

A/N : saya sudah menegaskan pada rating yang tertera di epep ini, jadi bagi yang masih labil dimohonkan untuk tidak membaca. Karena cerita ini cukup memiliki kata-kata yang diluar batas (?). Tapi kalau yang umurnya sudah lebih dari rating yang ditunjukan… masih labil, maka kalian perlu di pertanyakan. #ditendang😄

bagi yang masih mau melanggar silahkan menanggung akibatnya sendiri, jangan salahkan kami para author ^^

 

Italic word mean Heart Voices or Past Moments.

 

Previous Chapter : “[FICLET] : You’re Mine!”  | “Prolog

 

 

 

Terkadang engkau begitu menginginkan seseorang…

Terkadang engkau begitu membutuhkan seseorang…

Nafsu  bisa saja mengalahkan cinta.

Dan cinta bisa berubah menjadi obsesi yang mematikan.

 

***

 

Kim Seung Hyo menatap gedung di hadapannya. Yang menjulang tinggi ke langit. Jendela besar yang berkilauan dalam penerangan cahaya matahari yang menyilaukan. Di sana terlalu banyak lantai baginya untuk dihitung. Tampak lebih seperti sebuah benteng daripada kantor, tempat yang membicarakan kekuasaan. Seung Hyo menghembuskan napasnya dengan berat. Hal ini pasti akan menjadi terlalu sulit baginya.

 

Uang dan lebih dari itu…

 

“Agasshi.” Penjaga pintu menatapnya dengan sedikit keprihatinan di matanya yang gelap. Mungkin karena dia berdiri di tengah jalan, melongo terdiam seperti orang bodoh. Seung Hyo memberikan gelengan cepat kepalanya, menarik mantelnya sedikit lebih rapat ke tubuhnya, dan bergegas masuk ke dalam benteng –gedung- tersebut. Berusaha keluar dari udara dingin di Seoul, yang membuatnya jadi lebih tidak tenang.

 

Pria lain menunggu di belakang meja yang berkilauan di lobi. Dia menoleh ke kiri dan kanan. Seung Hyo gugup mencermati kamera keamanan yang mengikuti setiap gerakannya. Sekarang dengan hati-hati, dia mendekati meja. “Aku, um, aku sedang mencari Luhan, em.. maksduku.. Xi Luhan.”

 

Pria itu, di awal empat puluhan –mungkin- dan dalam setelan biru yang menonjol mengangkat alisnya. “Apakah anda sudah punya janji dengan beliau?” Sebenarnya tidak. Seung Hyo nyaris tidak mengumpulkan keberanian untuk menuju ke tempat ini. Dua kali di pagi itu. Dia bolak-balik dan hampir pulang ke rumahnya.

 

Aku membutuhkannya.

 

Seung Hyo menegakkan bahunya. “Tidak. Aku tidak punya janji.” Mata pria paruh baya tersebut menyipit. Seung Hyo segera mengatakan. “Namaku Kim Seung Hyo dan aku-aku adalah…teman lamanya.” Oke jadi bagian itu tidak sama persis dengan yang sebenarnya.

 

Tapi Seung Hyo tidak putus asa. Tidak. Lebih dari pada itu. Dia takut. Hampir sangat takut. Ketika ia melakukan pencarian mencari detektif swasta di daerah itu. Luhan Corporation segera muncul di layar komputernya. Segera setelah Seung Hyo melihat namanya, seluruh tubuhnya menegang. Xi Luhan. Beberapa pria meninggalkan tanda pada seorang wanita. Sebuah tanda yang masuk jauh di bawah kulit. Luhan telah menandainya bertahun-tahun sebelumnya.

 

Perusahaan Luhan adalah jalan keluar dari ketakutannya saat ini. Seung Hyo  masih memiliki ketakutannya. Lobi itu bahkan beraroma mahal. Dan, setelah kecelakaan itu, hampir segala sesuatu berada di luar jangkauannya. Tapi dia tidak punya pilihan. Seung Hyo harus meminta Luhan untuk membantunya. Selain itu, mereka sudah berteman sekali. Sebelum mereka menjadi kekasih. Sebelum semuanya pergi ke Neraka.

 

Pria paruh baya dalam setelan mewah menatap pada komputernya. “Saya tidak berpikir anda memahami betapa sibuknya jadwal yang dimiliki Luhan Sajangnim, Agasshi. Jika anda ingin berbicara dengan salah satu rekan junior, di sini, saya yakin bahwa kami akan menemukan seseorang yang siap sedia.” Detak jantung Seung Hyo berdebar di pendengarannya. Seorang rekan junior. Tepat. Well, itu lebih baik daripada tidak sama sekali dan pernyataan itu sedikit melegakannya, setidaknya ia tidak harus bertemu Luhan secepat ini. Seung Hyo masih belum siap.

 

Telepon di atas meja pria paruh baya itu tiba-tiba saja berdering. “Permisi.” Pria paruh baya itu bergumam sambil meraih teleponnya. Seung Hyo mengangguk. Pipinya terbakar. Apakah dia benar-benar berpikir, bahwa dia bisa meminta Luhan untuk membantunya? Bahwa dia hanya berjalan masuk ke dalam gedung ini dan Luhan akan berada di sana untuknya, untuk membantunya? Setelah semua waktu yang telah berlalu, Seung Hyo akan beruntung jika pria itu –Luhan- masih mengingatnya.

 

Kalau saja dia bisa melupakannya.

 

“N-Ne, Sajangnim. Sekarang juga.” Kegugupan yang tajam telah memasuki

suara pria paruh baya itu. Seung Hyo menoleh kembali pada pria paruh baya itu saat ia terburu-buru menutup telepon. Mata abu-abu hangatnya, kembali menatap Seung Hyo. Sekarang di sana ada rasa keingintahuan yang pasti dalam tatapannya. “Anda, datang dengan tepat, agasshi.”  Pria paruh baya itu mendorong sebuah clipboard ke arahnya. “Tanda tangan dulu, kemudian saya akan mengantar anda ke elevator.” Pandangan Seung Hyo ke arah kamera keamanan terdekat. Ketegangan memperkencang bahunya saat ia menuliskan namanya di atas kertas tersebut.

 

Kemudian Seung Hyo bergegas menuju lift di sebelah kanan. Jangan lemas. Jangan. Melangkah dengan pelan-pelan. Bagus dan pelan. Ujar Seung Hyo dalam hati, memperkuat kepercayaan dirinya.

“Bukan lift yang itu.” Pria paruh baya tersebut meraih sikunya dan mengarahkannya ke sebelah kiri. “Yang ini.” Seung Hyo menarik keycard dari sakunya. Menggeseknya di panel elevator. Pintu terbuka hampir seketika, dan pria paruh baya tersebut membimbing Seung Hyo masuk ke dalam. “Naiklah ke lantai paling atas. Luhan Sajangnim sedang menunggu anda.” Tapi Luhan bahkan tidak tahu kalau dia datang ke gedung ini. “Aku tidak mengerti—” Seung Hyo mulai berbicara. Tapi tiba-tiba saja pintu lift itu bergeser menutup sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.

 

Kedua tangannya gemetar saat lift naik. Dinding lift itu terbuat dari kaca dan saat Seung Hyo berbalik. Menengok keluar menikmati pemandangan kota Seoul. Banyak yang bisa berubah bagi seseorang dalam sepuluh tahun. Seseorang bisa memiliki dari yang benar-benar tidak ada…sampai memiliki segalanya. Atau… seseorang bisa memiliki segalanya…sampai tidak memiliki apa-apa.

Lift melambat. Seung Hyo berbalik ke arah pintu. Dia mengambil nafas dalam-dalam. Kemudian pintu itu bergeser terbuka. Sepatunya menginjak karpet mewah saat dia melangkah keluar dari lift tersebut.

 

“Seung Hyo-ssi?”

 

Seung Hyo menoleh pada sebuah suara yang menyapanya. Seorang wanita cantik berambut pirang bergegas menuju ke arahnya. Si rambut pirang itu tersenyum. “Lewat sini, silahkan.”

 

***

 

Luhan telah melihat Seung Hyo di video camera keamanan pada layar komputernya. Luhan merasa senang ketika melihat Seung Hyo berada di gedungnya dan tentu saja, Luhan masih sangat jelas mengingat siapa wanita itu. Well, kau seharusnya selalu mengingat orang yang menjadi cinta pertamamu, bukan? Seung Hyo selalu menjadi orang pertamanya. Sejak dulu, Seung Hyo sudah menjadi segalanya bagi Luhan.

 

Si rambut pirang membuka pintu mahoni yang berkilauan. “Nona Seung Hyo di sini, Sajangnim.”

Jangan lemas. Seung Hyo melangkah masuk kantor dan melihat seorang yang dipanggil ‘Sajangnim’ tersebut. Orang yang sudah menghantuinya. Orang yang sudah mengajarinya tentang cinta dan kehilangan.

 

Xi Luhan.

 

Luhan duduk di belakang meja yang besar. Luhan bersandar di kursinya yang besar. Dan kepalanya miring ke kanan saat matanya—masih coklat keemasan seperti yang pernah ia lihat memandangi seluruh tubuhnya. Rambutnya hitam segelap tengah malam, di potong dengan sempurna membingkai wajahnya yang kukuh. Tampan bukanlah kata-kata yang bisa di gunakan untuk mendiskripsikan Luhan. Itu tidak akan pernah bisa. Seksi. Keren. Mungkin itu adalah kata-kata yang tepat untuk Luhan.

 

Pintu menutup di belakang Seung Hyo, mengurungnya di dalam kantor bersama Luhan. Luhan bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arah Seung Hyo, langkahnya yang pelan dan pasti. Dengan setiap langkah yang Luhan ambil, Seung Hyo menegang, tubuhnya tak berdaya untuk melakukan sebaliknya.

 

“H-hallo, Luhan-ssi.”

 

Seung Hyo benci gagap dalam suaranya. Luhan membuatnya gugup. Selalu begitu. Luhan berhenti di depannya. Berdiri beberapa inci lebih dari enam kaki, sementara dia nyaris menepis lima atau tiga kaki. Seung Hyo memiringkan kepalanya ke belakang sehingga dia bisa bertemu tatapan mata Luhan yang dingin.

 

“Ini sudah lama sekali,” kata Luhan, kata-katanya dalam, bergemuruh dalam kegelapan. Suaranya sempurna dengan tubuh sekeras batu dan wajah yang seksi—suara yang membuat seorang wanita bisa membayangkannya dalam kegelapan.

Dia menelan ludah karena tenggorokannya tiba-tiba kering. “Ya, itu sudah lama.” Sepuluh tahun tiga bulan. Bukan berarti dia menghitungnya.

 

Tatapan Seung Hyo menilai pada tubuh Luhan sekali lagi. Ada kesadaran dalam tatapan Seung Hyo bahwa dia tidak diharapkan. Sensasi itu yang membuatnya mengingat terlalu banyak hal. Luhan cukup dekat untuk disentuh. Cukup dekat bagi Seung Hyo untuk mencium kesegaran Luhan, aroma maskulin yang menempel padanya. Kedua lubang hidungnya mengembang, seolah-olah Luhan menangkap aromanya, juga.

 

“Kau terlihat baik, Hyongie-ya.” Sekali lagi, sensasi yang berada dalam tatapannya. Sensasi yang mengatakan bahwa Luhan tahu keintiman diantara mereka. Seung Hyo berharap detak jantungnya bisa melambat. “Tapi kau tidak di sini untuk mengobrol, kan?” Dan Luhan berjalan menjauh darinya. Dia melambai ke kursi yang dekat dengan mejanya dan kembali ke kursinya. “Kita tidak pernah benar-benar mengobrol tadinya.” katanya lembut saat Luhan menuju ke kursi kulit besar miliknya.

 

Seung Hyo tidak melepas mantelnya. Dia hanya menariknya lebih dekat

pada tubuhnya. Sebuah kerutan samar muncul di antara alis Luhan. “Tidak. Kita tidak, kan? Lebih dari hubungan yang mengagumkan.” Luhan mengatakan dengan terbuka. Senyum samar Luhan yang tiba-tiba saja membuatnya sedikit tersudut, seperti menyiratkan sesuatu. Oh, ini berbahaya. Seharusnya Seung Hyo tau hal ini akan segera terjadi, sudah berulang kali ia memperingatkan dirinya untuk tetap berhati-hati pada setiap gerak-gerik Luhan.

 

“Aku di sini bukan untuk itu, juga.” Seung Hyo sudah merasa hancur setelah kepergian terakhir Luhan dan berakhirnya hubungan mereka. Luhan bersandar di kursinya. Kulit kursi berbunyi di bawahnya. “Kita akan mengalami itu lagi…” Oh tidak, mereka tidak akan. Seung Hyo belum siap untuk merasakan terbakar lagi –sakit hati yang mendalam-.

 

Luhan menepuk-nepuk dagunya. “Kau di sini bukan untuk basa-basi,bukan untuk sebuah hubungan yang mengagumkan dan cukup HOT, terus kenapa kau datang mencariku?” Ini adalah di mana Seung Hyo harus memohon. Karena tidak ada cara yang dia punya dan cukup uang di rekeningnya untuk menutupi jasa Luhan. Tidak dengan pria yang menonjol seperti gedung pencakar langit ini dan tampak seperti baru saja berjalan dari sampul VOGUE. Betapa banyak hal telah berubah.

 

 “Seseorang sedang mengawasiku.”

 

Luhan diam. Sensasi terbendung di matanya saat seluruh ekspresinya langsung terjaga dengan baik.

 

“Dan apa yang membuatmu begitu yakin akan hal itu?”

 

“Karena aku bisa merasakannya.” Ucap Seung Hyo yakin. Tunggu, itu terdengar gila, bukan? Ketika dia pergi ke polisi, mereka melihat Seung Hyo seolah-olah dirinya wanita gila. ‘Kau tidak bisa merasakan seorang penguntit’. Demikian mereka bilang. Seung Hyo memperselisihkannya, mendebat lebih tepatnya. Tapi pada akhirnya tanggapan mereka tetap sama, menganggap dirinya sedikit mengalami stress setelah kejadian yang menimpa dirinya –sebuah kecelakaan-.

 

Luhan tidak berbicara atau berusaha mengungkapkan sesuatu. Jadi Seung Hyo terus berbicara, berbicara dengan cepat. “Aku tahu ada seseorang yang sedang mengawasiku, ok? Ketika aku ke studioku, ketika aku keluar malam…” ketegangan menyelimutinya. Seung Hyo mengingat semua ketakutan yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Seolah itu adalah Pengetahuan secara naluriah.

 

“Kau berpikir seseorang sedang mengawasimu?” Seung Hyo mulai geram, Luhan tidak mempercayainya lebih dari polisi-polisi itu. “Aku pikir,” kedua tangannya mengepal. “Orang itu berada di rumahku. Barang-barang yang disusun ulang. Bukan di mana aku meletakkannya. Pintuku terkunci tapi ada seseorang yang bisa memasukinya.” Sekarang Luhan mencondongkan badannya ke depan. “Apa yang telah disusun ulang?” katanya mulai tertarik. Tapi dalam kata-katanya penuh penekanan.

 

“Pa – pakaian.”

 

Tatapan Luhan tepat menusuk di wajah Seung Hyo. “Bra.” Seung Hyo berbisik. “Beberapa celana dalam yang hilang. Beberapa…beberapa yang tertinggal di tempat tidurku.”

 

“Sial.”

 

Ya, itu cukup persis memperlihatkan bagaimana perasaan kesalnya Luhan. “Polisi tidak percaya pada yang kurasakan. Mereka tidak melihat tanda-tanda kerusakan–di apartemenku. Dan mereka pikir aku hanya kehilangan laundryku.” Tapi Seung Hyo tahu sesuatu yang lain sedang terjadi. Seung Hyo menjilat bibirnya yang terlalu kering. “Ini…ini bukan yang pertama kalinya terjadi.”

 

Seung Hyo berusaha untuk tetap tenang dan terus berbicara. “Ketika aku berada di New York…” tempat yang paling tidak ingin ia katakan, terlalu banyak kenangan di Negara tersebut. “Hal yang sama terjadi sebelum kecelakaanku. Ada seseorang yang masuk ke dalam apartemenku.” Pada awalnya, sudah mulai cukup membahayakan. Hanya dengan bunga. ” Dia mulai dengan meninggalkan bunga di kamar gantiku.” Seung Hyo pergi ke kamar gantinya setelah pertunjukannya selesai dan menemukan bunga tersebut. Tidak ada catatan hanya sebuket bunga Mawar yang cukup indah.

 

Luhan menunggunya untuk melanjutkan. Dadanya terasa sesak saat Seung Hyo terus mengatakan dirinya sudah lama dalam posisi terancam, “Di waktu berikutnya aku menemukan bunga-bunga itu berada di apartemenku. Di apartemenku yang terkunci.” Otot tertekuk di sepanjang rahang Luhan. “Dan kau yakin bunga-bunga itu bukan hadiah dari seorang kekasih?” tanya Luhan menginterupsi walaupun dadanya bergemuruh, berharap Seung Hyo –wanitanya- tidak mengatakan ‘Ya’.

“Aku tidak punya kekasih.” Seung Hyo menggelengkan kepalanya. “Tidak setelah itu. Tidak sekarang juga.”

 

Apakah Seung Hyo memiliki seseorang yang hanya ingin menakuti dirinya, seperti seorang sasaeng fans. Sebuah bayangan yang mengikutinya kemanapun dia pergi. Pikir Luhan. “Aku datang ke sini karena aku berharap bahwa salah satu agenmu mungkin bisa membantuku. Bahwa kamu bisa menetapkan seseorang untuk menindak-lanjuti dan hanya melihat apa yang sedang terjadi.”

 

Tatapan Luhan tampak bosan terarah padanya. Seung Hyo selalu merasa seperti Luhan melihat lekat-lekat di matanya ketika Seung Hyo juga menatapnya. Dan bodohnya ia tidak bisa berpaling. “Polisi tidak mau membantuku. Aku berharap kau bisa.” Seung Hyo mengucapkan selamat tinggal pada harga dirinya. Saat ini banyak ketakutan yang terlibat. Tidak ada ruang untuk di banggakan. Seung Hyo punya rahasia yang dia tidak ceritakan pada Luhan, belum.

 

“Kumohon Luhan-ssi. Aku membutuhkanmu.” Sekali lagi, Selamat tinggal pada harga diriku. Luhan tetap menatapnya tanpa ekspresi.

“Kau punya aku.” Katanya langsung. Seung Hyo menghembuskan napas leganya. “Terima kasih.”  Oh, Beritahu ia tentang uangnya.

“Mungkin kita bisa- kita bisa mencari solusi semacam rencana pembayaran—”

“Persetan dengan uang.” Luhan bangkit dari mejanya lagi. Berjalan kearah Seung Hyo. Seung Hyo memiringkan kepalanya ke belakang dan rambutnya menutupi lengannya saat ia menatap Luhan yang mendekat. Luhan meraih tangannya. Menariknya berdiri. Pada sentuhannya—hanya satu sentuhan itu —kesadaran dialirkan melalui dirinya. Rona memerah terlihat jelas di pipi Seung Hyo.

 

Kenangan-kenangan yang berkelebat dalam memori otaknya membuat tubuh Seung Hyo jadi menegang kembali. Itulah cara Luhan yang selalu dilakukannya untuk dapat memenangkan hati Seung Hyo, dulu sekali. Satu sentuhan dan- ” Aku yakin rasa itu masih ada di sana.” Ucap Luhan menggertak, menyadarkan Seung Hyo kembali ke alam nyata. Genggaman erat Luhan mencengkeram tangannya. “Dan kita akan mendapatkannya, segera.” Kata-kata gelap yang dilontarkan Luhan merupakan sebuah janji. “Tapi sekarang, aku ingin mengetahui apa yang terjadi dalam hidupmu.” Demikian juga yang ingin diketahui Seung Hyo mengenai kehidupan Luhan tanpa dirinya, tapi apakah itu masih mungkin?

 

***

 

Kim Seung Hyo. Kim Seung Hyo. Gadis yang pernah membintangi setiap fantasi remaja yang pernah ia miliki. Wanita yang telah membuatnya menyadari betapa nafsu gelap dan liar bisa membakarnya kapan saja. Seung Hyo telah kembali padanya. Berjalan tegak memasuki gedungnya. Ke dalam hidupnya.

 

Dia kembali.

 

Kali ini, segalanya akan berakhir secara berbeda bagi mereka. Luhan berjanji tidak akan pernah membiarkan Seung Hyo pergi lagi, walaupun hanya selangkah dalam jalannya. Walaupun tidak akan mudah bagi Luhan untuk kembali meyakinkan maupun mendapatkan hati wanitanya seperti dahulu.

 

Tapi.. Kali ini, ia membutuhkanku.

 

Tuhan seperti menujukkan jalan yang tepat untuk Luhan, memanfaatkan sebaik mungkin waktu yang bisa didapatkannya untuk dapat berada disisi Seung Hyo, lagi. Walaupun saat ia datang pada keadaan yang kurang tepat dan terlihat seperti menguntungkan bagi Luhan.

 

***

 

Mereka melangkah keluar dari gedung pencakar langit tersebut. Suara-suara dari kota langsung memenuhi telinga Seung Hyo—suara klakson yang menjadi bumerang dari mesin. Seung Hyo menjauh dari Luhan, menuju taksi di sudut jalan. Namun Luhan lebih dulu menangkap lengannya dan menariknya kembali mendekat padanya. “Kita akan mengendarai mobilku.” Luhan sudah memanggil sopirnya.

 

Kendaraan ramping, hitam yang mengoda menunggu di sebelah kanan. Sopirnya—yang merangkap sebagai salah satu pengawal pribadi Luhan—menahan pintu belakang terbuka untuk mereka. “Kita akan menuju ke apartemennya wanita ini,” Luhan bergumam pada seorang pria bernama Huang Zi Tao. Seung Hyo menatap ragu-ragu lalu dengan cepat menyebutkan alamat apartementnya berada. Tao mengangguk. Tao telah bekerja dengan Luhan selama lebih dari lima tahun dan Luhan percaya pria ini secara implisit.

 

Seung Hyo masuk ke dalam kendaraan mewah milik Luhan, ketika Seung Hyo mencoba masuk dengan anggun, roknya terangkat. Memperlihatkan hamparan kaki sehalus sutranya yang tertutup kain dari bahan nilon. Sejak dulu, Seung Hyo menikmati mengenakan stocking tinggi.

 

Seung Hyo telah menghilang ke dalam mobil. Matanya menyipit, kenangan berkelebatan dalam benaknya, Luhan mengikutinya. lalu Pintu tertutup, mengurung mereka di dalamnya. Pelindung privasi sudah dinaikkan, benar-benar menghalangi mereka dari pengamatan Tao. Mobil menjauh dari pinggir jalan.

“Aku pikir salah satu agenmu bisa menangani hal ini. Maksudku, kau adalah bos.” Kata-kata Seung Hyo sedikit terlalu cepat. Ia selalu begitu. Berbicara dengan cepat ketika ia merasa gugup. Itu bagus bahwa aku masih membuatnya gugup. bisik Luhan dalam hati. “Aku yakin kau tidak punya waktu luang untukku.” Sebaliknya. Luhan mulai bergeser ke kursi di sampingnya. Memastikan bahwa bahu mereka bersentuhan. “Kau tidak akan kembali ke New York?” Kepala Seung Hyo tersentak kearah Luhan. Mata milik Seung Hyo—dalam, coklat gelap— menatapnya. Ada warna berkilau yang terpendam di mata coklatnya. Dan ketika Seung Hyo merona matanya yang berkilau mulai bercahaya lebih terang.

 

Kim Seung Hyo. Porselen yang sempurna. Begitu halus. Seung Hyo masih khawatir karena hal yang Luhan inginkan darinya…

 

Aku bukan seorang bocah lagi.

 

Luhan sudah menunggu Seung Hyo terlalu lama. Rambut hitamnya jatuh di bahunya, panjang dan halus. Ketika Seung Hyo menari, rambutnya terus di jepit, membuat tulang pipinya terlihat lebih tajam. Ketika Seung Hyo nanti memutuskan untuk menari dan kembali…

Memikirkan hal itu cukup membuat Luhan sakit dan menyesakkan. Ia tak ingin kehilangan wanitanya lagi, tidak. “Tidak ada apa-apa lagi bagiku di New York.” Suaranya tenang. Bukan seperti Seung Hyo yang biasanya. Seung Hyo berbicara dengan rasa humor dan terasa hidup. Tetapi ketika Seung Hyo memasuki kantornya, kembali padanya, ada ketakutan dalam suaranya—dan juga di matanya. “Aku mengalami…kecelakaan.”

“Aku tahu.” Jawab Luhan cepat, tidak ingin Seung Hyo mengingat kejadian yang melukainya dan membuatnya bersedih.

 

Kisahnya telah ada di seluruh berita. Seorang Balerina prima terjebak dalam kecelakaan mobilnya di malam badai. Seung Hyo sudah menari ribuan kali. Ia bersinar di panggung New York. Dan dia hampir tidak selamat dari kecelakaan itu.

Seung Hyo memaksa menghirup udara masuk ke dalam paru-parunya. Jarak yang mengetatkan mereka membuat Seung Hyo sedikit sulit bernafas.

“Aku sudah terapi fisik pada kakiku.” ucap Seung Hyo dengan suram saat

dagunya—yang agak runcing— mendongak. “Aku bisa menari, hanya saja tidak seperti…tidak seperti sebelumnya.” Seung Hyo menggelengkan sedikit kepalanya. “Panggung itu tidak untukku lagi.” Luhan kembali bertanya dengan cepat.

“Itu sebabnya kau pulang ke rumah?”

 

Rumah. Satu-satunya rumah yang pernah Seung Hyo punya—tempat ternyamannya. Dua anak asuh. Terombang-ambing melalui banyak hal yang tidak seharusnya dialami untuk anak seumuran mereka, yang harusnya saat itu fokus pada menggapai sebuah mimpi dan cita. Seung Hyo bertemu dengan Luhan ketika Luhan berumur tujuh belas tahun. Sedangkan Seung Hyo sendiri sudah berumur lima belas tahun. “Ya,Itu sebabnya aku pulang ke Seoul, rumah yang masih kumiliki” Luhan menyetujuinya dengan suara serak. “Aku menabung untuk membuka sebuah studio. Aku akan mengajar di sini. Aku masih bisa melakukan itu.” Ujar Seung Hyo membangun kepercayaan dirinya.

 

Menari telah mengeluarkan Seung Hyo dari kemiskinan. Di studio yang terang benderang dan panggung di New York. Menari telah memberinya sebuah kehidupan baru. Dan membawa Seung Hyo untuk melupakan kenangan buruk ditinggal oleh pria yang dicintainya. Membuktikan pada dunia bahwa ia bukan seorang anak yang dibuang sehingga terlihat sangat menyedihkan. Tapi ia adalah seekor angsa emas yang diincar ribuan lelaki di seluruh New York.

“Uang bukanlah sebuah masalah.” Seung Hyo tidak menatap Luhan lagi. Seung Hyo ingin mata Luhan yang menatapnya. Luhan membungkuk ke arah Seung Hyo. Meraih tangannya. Itu yang membuat tatapan Seung Hyo segera kembali kepada Luhan. “Aku akan menemukan cara untuk membayarmu,” Kata Seung Hyo sedikit gemetar. “Aku bisa melakukannya, hanya saja beri aku beberapa waktu.” Luhan sedikit memberi tatapan kesal padanya. “Kita akan menyelesaikannya. Dan berhentilah membahas untuk membayar.” Dikepalanya, Luhan punya banyak rencana untuk Seung Hyo. Untuk kembali padanya.

 

Jari-jari Seung Hyo terjalin dengan jarinya. Tangan Luhan menggenggamnya dengan sangat erat. Kulitnya kasar dan gelap, kecokelatan karena Seung Hyo menghabiskan banyak waktu di bawah sinar matahari New York. Tangan Seung Hyo pucat, hampir rapuh. Seperti sangat mudah patah.

 

Luhan selalu memikirkan tentang Seung Hyo? Dari saat pertama Luhan melihatnya, ketika Luhan bergegas masuk ke ruangan itu, mendengar teriakan ketakutan Seung Hyo… Jangan, tolong jangan!

Seung Hyo sudah diselamatkan oleh dirinya. Dirinya.

“Apa yang kau pikirkan?” ucap Seung Hyo berbisik, membuyarkan lamunan Luhan. “Saat pertama kali kita bertemu.” Jawab Luhan tak melepaskan genggamannya dan terus menatap Seung Hyo dengan lekat.

 

Seung Hyo memiliki Bulu mata yang panjang. Mata coklat gelapnya begitu seksi. Napasnya berhembus sedikit terlalu cepat. “Aku tidak yakin bahkan kau masih mengingat pertemuan pertama.. kita. Bahkan itu pertemuan yang tak pantas untuk kau ingat.” Hanya setiap menit. Ada beberapa hal seorang pria tidak bisa lupakan.

“Kau seharusnya datang padaku lebih cepat, Hyongie-ya.” Luhan benci memikirkan wanitanya di luar sana, ketakutan. Sendirian. “Terakhir kali kita berbicara,” suara Seung Hyo terasa membelai Luhan tepat di hatinya. “Kau bilang untuk segera cepat keluar dari kehidupanmu. Kembali itu tidak mudah.”

 

Mobil melambat. Rahang Luhan mengeras.

Kau tidak akan lolos begitu mudah saat ini.

“Aku pikir kita sudah sampai,” kata Seung Hyo dan menarik tangannya. Namun Luhan tidak melepaskannya begitu saja.”Kau bilang kau tidak punya kekasih.” Seung Hyo menyerngit kemudian dengan pasrah menggelengkan kepalanya. Bagus. Luhan tidak ingin memikirkan Seung Hyo bersama beberapa bajingan lainnya. Tatapan Luhan menatap mata Seung Hyo. “Kau bisa, Hyongie-ya.”

 

Seung Hyo menggelengkan kepalanya lagi. “Luhan-ssi…” Namanya terdengar serak dari gumaman Seung Hyo. Penolakan dan keinginan, semuanya terdengar sama ditelinga Luhan. Bibir Luhan terlalu dekat. Seung Hyo beraroma sangat baik. Manis vanila. Cukup bagus untuk dimakan. Luhan merenggut mulut Seung Hyo. Tidak dengan lemah lembut dan pelan-pelan. Karena dia tidak pernah menjadi pria semacam itu. Luhan tahu dia bukan tipe kekasih yang lembut. Dia berjuang untuk setiap suatu yang ia miliki. Dan Luhan akan terus memperjuangkannya.

 

Lidahnya didorong ke dalam mulut Seung Hyo. Rasanya bahkan lebih manis daripada aromanya. Bibirnya lembut dan memabukkan, dan Seung Hyo membalas ciumannya. Sebuah erangan pelan naik ke tenggorokannya, dan lidah Luhan menyelusurinya dengan mudah. Luhan sudah menjadi salah satu orang yang mengajarinya bagaimana caranya berciuman.

 

Luhan memperdalam ciumannya, menginginkan lebih, jauh lebih banyak dari pada yang bisa dia dapatkan. Seung Hyo datang pada Luhan karena ia takut, tapi Luhan tidak tertarik pada ketakutan yang dialami Seung Hyo. Luhan menginginkan hubungan mengagumkan yang mereka miliki seperti dahulu, dia menginginkan Seung Hyo.

 

Seung Hyo segera menarik diri. Bibirnya basah dan merah. Luhan sangat mencandu bibir Seung Hyo. Salah satu yang ia tak pernah bisa tinggalkan. Tak peduli berapa banyak uang yang Luhan punya, tak peduli berapa banyak perempuan yang hadir ke tempat tidurnya. Seung Hyo adalah salah satu yang Luhan inginkan, salah satu yang akan dimilikinya.

 

Ada harga untuk semua yang ada di dunia ini. Seung Hyo tahu pelajaran itu dengan baik. Jadi, dia harus membayarnya. Luhan telah memikirkan bagaimana cara yang tepat agar wanitanya itu membayar sesuatu yang membuatnya juga puas atas hasil kerja kerasnya. Dan tentu saja Itu adalah sesuatu yang bagus untuk Seung Hyo mampu membayarnya kali ini. Luhan hampir melompat –keluar- dari mobilnya ketika Seung Hyo melepaskan genggamannya di saat Luhan lengah.

 

Seung Hyo keluar perlahan-lahan. Terlalu sadar akan rasa sakit baginya, dan rasa gairah yang tidak akan menghilang bila terus berada di dekat Luhan. Sinar matahari menyinarinya. Awal musim semi, tapi masih dingin karena posisi kotanya. Seung Hyo mengabaikan rasa dingin dan menatap pada kompleks apartemennya. Bangunan tua, wilayah kumuh kebanyakan berada tepat di luar kota. Saat Seung Hyo berada di New York, tempat tinggalnya jauh lebih besar—begitu dekat dengan penerangan Broadway (jalan di Manhattan yang melewati Times Square, yang terkenal dengan teater). Tagihan rumah sakit telah mengambil banyak uangnya. Seung Hyo tahu itu. Dia tahu jauh lebih banyak daripada yang ia sadari. “Tunggu di sini.” Luhan memberitahu Tao. lalu Luhan mengikuti Seung Hyo menuju ke gedung apartemennya.

 

Keamanan di apartemen itu tidak ada. Siapapun bisa berjalan tepat di…

Jadi, hal inilah yang mempermudah si penguntit untuk lebih leluasa melakukannya.

“Aku berada di lantai tiga,” kata Seung Hyo. Lantai paling atas.

“Lift sedang diperbaiki sekarang, jadi…” Seung Hyo berbalik dan matanya terarah ke tangga. “Bisakah kakimu melakukan pendakian itu?” Bahu Luhan tersentak. Ah, itu dia. Harga diri Seung Hyo yang sengit. “Ya, aku bisa mengatasinya.”  Dan Seung Hyo tidak melihat ke belakang saat mulai menaiki tangga. Tapi Luhan memperhatikan Seung Hyo yang menempel sedikit rapat pada pegangan tangga.

 

Luhan mengikuti di belakangnya, dengan mudah menutup jarak yang memisahkan mereka, dan ia tetap satu tangga di belakang Seung Hyo, sepanjang jalan sampai di atas. Tatapan Luhan memperhatikan segalanya. Cat yang mengelupas di dinding. Lampu yang berkedip-kedip. Lampu yang tidak menyala sama sekali.

 

Brengsek. Umpat Luhan dalam hatinya.

 

Lalu mereka berada di lantai tiga. Ada tiga pintu lain di lantai itu, tapi Seung Hyo membawanya ke apartemen 303. Luhan menghentikannya sebelum ia bisa meletakkan kuncinya di gembok. Luhan membungkuk, memeriksa gembok tua dengan warna keemasan tersebut. Tidak ada tanda awal mula untuk menunjukkan bahwa seseorang telah mencoba untuk mencongkelnya. Di sana tidak ada tanda-tanda gangguan sama sekali.

 

Luhan mundur, lalu Seung Hyo membuka pintu dengan suara berderit, engsel kuno dan jelas sekali membutuhkan minyak. Seung Hyo bergegas masuk, hanya sedikit tersandung sebelum ia menyalakan lampu.

 

Apartemen itu kecil tapi sangat ‘Seung Hyo’. Warna-warna cerah menghiasi dinding, mebel yang nyaman mengisi interiornya. Tirainya di tarik mendekat jendela. Membiarkan cahayanya mengisi ruangan. Tempatnya beraroma Seung Hyo. Luhan maju ke arah jendela. Perangkat gawat darurat mengarah di sepanjang jalan sampai lantai apartemennya. Jendelanya terkunci, dan lagi, Luhan tidak melihat adanya tanda-tanda gangguan.

“Aku tahu apa yang kau lakukan.” Seung Hyo berdiri beberapa kaki di belakang Luhan. “Detektif—Oh Sehun— tidak menemukan tanda-tanda kerusakan, juga. Tapi aku bilang padamu, seseorang telah berada di sini.”

“Apakah aku bilang bahwa aku tidak mempercayaimu?” Luhan menoleh padanya.

Seung Hyo menggelengkan kepala dengan cepat dan wajah polosnya.

“Bawa aku ke kamar tidurmu.” Seung Hyo bergerak mundur selangkah. Sedikit terkejut dengan permintaan –perintah tepatnya- Luhan yang secara tiba-tiba.

“Itu di mana dia dapat melakukan hal yang brengsek pada semua pakaianmu, bukan?” Luhan tidak membiarkan emosi memasuki suaranya. Sekarang bukan waktunya untuk emosi. Walaupun sebenarnya Luhan sudah nampak geram memikirkan laki-laki lain memiliki bra atau celana dalam milik wanitanya.

 

Seung Hyo berputar dan berjalan menyusuri lorong sempit. Ia membuka

pintu lain, “Ini….di sini.” Luhan melewatinya dan melangkah masuk ke dalam kamar sempit. Tempat tidur dari kayu tua berkaki empat. Sebuah laci—yang telah di cat pink gelap—menunggu untuk dibuang. Sebuah meja rias berdiri di sebelah kanan. Tidak ada yang tampak terganggu di kamarnya. “Kapan terakhir kalinya kau pikir dia ada di sini?” Luhan menatap serius dan tajam kearah Seung Hyo.

“Tadi malam,” kata Seung Hyo saat tatapannya ke tempat tidur. “Ketika aku pulang tadi malam, emm… pakaian dalamku tertinggal di tempat tidur.” Luhan menatap tempat tidur.

“Aku tidak meninggalkannya di sana.” Lanjut Seung Hyo dengan suara tercekat.

 “Aku tahu, aku tidak meninggalkannya di sana. Ada orang yang memainkan beberapa jenis permainan denganku.”

“Aku tidak berpikir itu permainan.” Luhan menjauh dari tempat tidur dan kembali mendekat pada Seung Hyo. Seung Hyo belum beranjak dari pintu. “Aku pikir seseorang menguntitmu. ” Luhan berhenti beberapa inchi di depan Seung Hyo. “Seseorang seperti ini bisa sangat, sangat berbahaya.” Seung Hyo mendongak dan tatapan matanya terarah ke Luhan seolah merasa takut.

“Membobol masuk ke rumahmu, untuk mengikutimu…” Luhan mengangkat tangannya dan menyibak rambut hitam yang melewati bahu Seung Hyo. “Kedengarannya seperti pria yang terpaku padamu.” Luhan membelai dan menyisir lembut rambut Seung Hyo. Sudah lama sekali dia merindukan untuk melakukan hal itu. “Kau bisa menemukannya, kan?”

“Aku bisa. Agenku akan mengawasi tempatmu. Tidak ada seorangpun yang akan masuk ke sini lagi.” Napas Seung Hyo berhembus keluar, terdengar lega. “Terima kasih.”

“Aku akan mendapatkan kunci yang lebih baik untuk pintu dan jendelamu.” Luhan akan melakukan lebih daripada itu untuk tetap membuat wanitanya aman.

“Kau akan aman di sini.” Seung Hyo mengangguk dengan cepat. “Kau akan lebih aman…” Luhan harus mengatakannya. “Jika kau pulang ke rumah bersamaku.”

Mata Seung Hyo melebar. “Luhan-ssi…”

“Ini tidak seperti akan menjadi pertama kalinya, Hyongie-ya.”

 

Seung Hyo mundur. Punggungnya membentur kusen pintu. “Aku tidak akan pulang denganmu…untuk itu.” Itu. Hubungan yang diingankan Luhan untuk memiliki Seung Hyo hanya untuk dirinya –Luhan-. Seperti dahulu dirinya yang selalu berada dalam pelukan hangat seorang Xi Luhan disetiap malam-malam yang mereka lewati bersama, bercanda tawa, melewatkan beberapa film atau drama romantic walaupun Luhan tidak menyukainya dan bercerita banyak hal.

“Aku butuh bantuanmu, Luhan-ssi. Tapi tidak lebih dari itu.” Bukan penolakan seperti ini yang Luhan inginkan. Tapi Luhan akan memberi Seung Hyo waktu untuk saat ini. Tidak lama kemudian, Seung Hyo pasti akan datang padanya –lagi-.

 

Aku tahu kelemahannya.

 

Luhan memiringkan kepalanya. “Kalau begitu aku akan memulai perlindunganmu. Setidaknya ini yang bisa aku lakukan untuk teman…lamaku.” Sekali lagi tubuh Luhan menyentuh saat kembali melewati Seung Hyo. Ketegangan berputar pada Seung Hyo saat Luhan menuju ke lorong. “Kita, pernah sekali.” Suara Seung Hyo menghentikan langkah Luhan. “Kita berteman sebelum kita menjadi sesuatu yang lebih.” Kata Seung Hyo lembut seperti bisikan. Ya, mereka berteman, tapi mereka sudah kehilangan momen itu, lama sekali.

 

Luhan  mengeluarkan teleponnya saat menuju pintu depan. Segera setelah pintu depan apartemen Seung Hyo tertutup, Luhan menuntut, “Aku ingin agen di apartemen Kim Seung Hyo.” Luhan mengatakan alamat apartemen Seung Hyo dengan cukup kasar. “Kunci baru. Kamera video dan alarm masuk.” Seung Hyo bahkan tidak memiliki alarm. “Aku ingin satu tim pengawas di tempat ini.” Luhan ingat cara tangan Seung Hyo telah mencengkeram pegangan tangga tadi. “Dan aku ingin lift dibenahi.”

 

Perintahnya akan ditaati. Staffnya merespon dengan cepat permintaannya. Luhan bukan anak terbuang dan tak punya uang lagi. Dia memiliki kekuasaan sekarang.

Luhan menoleh pada pintu Seung Hyo yang terutup. Dia memiliki kekuasaan dan dia akan menggunakannya.

 

***

 

Mimpi itu hadir lagi. Menyergapnya ketika Luhan lelah atau ketika dia memikirkan Seung Hyo terlalu banyak. Luhan menemukan dirinya kembali di rumah tua itu. Salah satu atapnya merosot dengan karpet yang telah usang.

Lain rumah. Lain tempat. Malam pertamanya di sana.

Kumohon, jangan…” Suara itu telah memanggilnya.

Luhan sudah berdiri, sebelumnya ia berpikir dua kali. Berdiri dan dalam perjalanan menuju suara tersebut. Mimpi itu mengambil alih kehidupan nyata-nya.

 

Dia mendobrak pintu kayu, memperlihatkan sebuah kamar tidur yang sempit. Dia tidak melihat orang yang ketika mereka membawanya ke rumah itu sebelumnya. Dua orang di atas tempat tidur. Anak laki-laki—”saudara” barunya, Kim Min Seok. Yang lainnya adalah gadis…yang berambut panjang dan bermata sedih. Gadis cantik yang terlalu malu berbicara dengannya sebelumnya.

Tapi dia yakin suaranya telah menjadi salah satu panggilan padanya, memohon, “Tolong, jangan.” Gadis itu tidak bicara lagi. Tidak menangis, tidak memohon. Karena tangan saudaranya  menguasai mulutnya. “Apa sih yang kau lakukan?” Luhan menuntut. “Keluarlah, keluar!” Bentak Minseok  kembali, tapi suaranya tetap rendah. Jadi, orangtuanya tidak akan mendengar? Tatapan Luhan tertuju pada gadis itu. Air mata mengalir dari matanya. Satu tangan Minseok menguasai mulutnya dan satu tangannya lagi mencengkeram pergelangan tangannya yang kecil ke tempat tidur.

Kemarahan telah menguasai Luhan. “Lepaskan dia, sekarang.”

“Keluar,” Minseok bicara lagi. “Atau aku akan memberitahu orang tuaku untuk mengusirmu dari sini. Ini adalah rumahku. Aku bilang apa—”

Dia tidak bisa mengatakan apapun lagi. Luhan merobohkan pria itu dari gadis tersebut. Luhan melayangkan tinjunya ke wajah Minseok. Lagi dan lagi. Tulangnya patah. Darah menyembur. Luhan terus memukulinya. “Hentikan! Kau bisa membunuhnya.” Seru Gadis tersebut. Kedua tangannya terhalang di tengah-tengah mereka.

 

Mata Luhan terbuka saat mimpi—masa lalunya—itu lenyap. Tangannya mengepal.

Seung Hyo membutuhkannya lagi.

 

Aku tidak akan mengecewakannya.

 

*** TBC ***

 

Author Notes Evilliey Kim: Annyeongggg ~ Opening Part sudah dipublish ^^ Pertama saya mau menyampaikan ucapan Terima Kasih dan Salam Tercinta dari author CE untuk readers-deul yang kemaren sudah menyempatkan jari lentik nan cantiknya untuk meninggalkan banyak komentar, karena author CE sekarang sibuk dengan acara pribadinya (lamaran dari abang Taecyeon😄. Tapi beneran loh CE unnie mau nikah walaupun enggak sama abang Taecyeon, sama suami masa depan yang sama tampannya seperti abang Taecyeon #cieeee, saya didedikasi untuk jadi WO-nya. Tapi karna saya bilang bayaran untuk WO-nya milik saya kagak murah, jadinya CE unnie mesen yang deket dari rumahnya aja dan saya diperintahkan untuk meneruskan PART selanjutnya dari epep ini. Wkwkwkwk😄 #dimutilasi) jadi beliau (?) tidak bisa menuliskan ‘Author Notes’ seperti kemaren. Unnie ~ semoga dilancarkan dan dimudahkan segala urusannya yaa, semoga bahagia ~ ^^ (CE unnie nikah setelah lebaran, bagi yang tinggal di Yogya silahkan mengontak CE unnie untuk mengirimkan undangannya ke rumah kalian. saya sudah punya undangan pribadinya sendiri. tapi saya mana punya tiket pesawat buat terbang kesana. Terus kalau mau kesana masa saya nginep dimana? Dirumah CE unnie? Jadi obat nyamuk dong di…. #ehehmm malam pertama mereka. WAKAKAKAKK *ketawa setan* #ditendang XD)

 

Kembali ke.. EPEP *ala tukul* #LOL #ditendang😄.

Oke, saya juga mau ngucapin terima kasih untuk readers-deul yang meninggalkan komentarnya. Saya ‘SELALU’ memantau setiap komen yang kalian tuliskan di box comment epep kami. Opening part kali ini didedikasikan untuk Thea Saeng, reader yg terpilih karena komentarnya yang menarik. ^^

tapi saya entah kenapa terganggu dengan panggilan ‘thor’, kesalahan saya sih karena enggak memperkenalkan diri. Perkenalkan saya MeSya, 95Line, masih AWET MUDA. (jadi tidak ada panggilan ‘thor lagi’. Bagi yang umurnya lebih tua dari saya silahkan memanggil ‘Saeng’, bagi yang umurnya kurang tua (?) dari saya silahkan memanggil ‘Unnie’ dan bagi yang umur kita sama’an jangan pernah sungkan untuk memanggil ‘MeSya’ bukan chingu. Ini sangat diwajibkan!! ^~^)

 

Karena saya sudah pernah bilang nanti entah di Part keberapa EPEP ini ada adegan ENCEH-nya. (masih dirahasiakan tapi tidak lama lagi –semoga saja-) Saya dan CE unnie memutuskan memilih readers (walaupun kami kemaren baru ngepublish prolog) dari komentarnya yang menarik dan banyaknya tebakan yang benar mengenai 3 member yang di blur diposter tersebut. terpilihlah 2 readers yang akan mendapatkan PW dan kami akan menghubunginya ketika epep khusus ENCEH tersebut sudah di publish. Readers yang terpilih adalah : “lusyelf” dan “AmmabeLau17” bagi yang memiliki username tersebut silahkan meninggalkan email atau no hape kalian di box komen dibawah ini jangan lupa juga komentarnya lagi mengenai part ini, karena suatu saat kami akan menghubungi kalian untuk memberitau PW epep kami yang SPECIAL. Jangan sedih (?) untuk yang tidak terpilih, kami masih mencari readers yang terpilih di PART ini, karena kami bisa memilih 10 readers atau 20 sekalian jika kami mau (jika kalian meninggalkan komentar).  Semangat Yaaaa untuk meninggalkan komentar dengan jari lentik nan cantik milik kalian, karena yang tidak terpilih juga mendapatkan kesempatan mendapatkan PW lohh, tergantung seberapa banyak kalian selalu meninggalkan komentar disetiap EPEP kami. Saranghaee ~

 

Seperti biasa ~ kalau ada 100 komen yang saya dapat di Chapter ini maka ‘Chapter Two’ akan segera dirilis. Kalau hari inipun saya mendapatkan 100 komen, maka… besoknya saya akan rilis Chapter Two. Ottokhe? Adakah yg excited bagaimana pasangan Lu-Hyo ini selanjutnya? Bagaimana Kisah Silam hubungan mereka? Apa yang terjadi pada Luhan yang terobsesi pada Seung Hyo? Dan… masih banyak lagi. Jadi…. Capcus cyn.. tinggalkan komentarnya ASAP. #LOL #ditendang WAKAKAKAKKK😄

 

Kalau kemaren saya tanya siapa 3 member yang diblur di poster epep kami, untuk PART ini saya akan sedikit mempermudah. Yaitu : ada berapa Other Cast member EXO yang disebutkan ( walaupun numpang lewat doang) yang ada di PART ini? Jangan lupa sebutkan nama mereka. ^^

 

Miaannn yaaa cuap-cuap saya kebanyakan. >.< Selamat menunaikan Ibadah Puasa bagi yang melaksanakannya. Mohon maaf jika ada kata-kata saya (kami) jika ada yang menyinggung hati readers-deul. Tak lupa kami meminta Support untuk kolaborasi pertama dalam dunia per-ff-an ini, semoga kalian suka dengan gaya tulisan-tulisan kami maupun alur cerita ini. Jeongmal Gomawooo ~ ^^ ~ *bow*